
Sabtu (13/12) sekitar pukul 10:00 WIB. Sebagai bagian dari implementasi penjaminan mutu pendidikan dan pengabdian lulusan, Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya menyelenggarakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) Khidmah Lulusan Mahasantri secara hydbrid. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Al Fithrah Blitar, serta diikuti secara daring melalui platform Zoom meeting oleh para lulusan yang sedang menjalankan khidmah di berbagai unit dan Al Fithrah daerah.
Adapun lokasi khidmah yang terlibat secara daring meliputi Al Fithrah Meteseh, Al Fithrah Lamongan, Al Fithrah Pakal, serta Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, yang mencakup Unit RA, MI, PDF Wustha, dan PDF Ulya. Pola pelaksanaan hybrid ini mencerminkan adaptasi kelembagaan Ma’had Aly Al Fithrah terhadap dinamika tata kelola pendidikan Islam kontemporer, sekaligus memastikan bahwa proses evaluasi khidmah dapat menjangkau seluruh lulusan secara efektif, inklusif, dan berkelanjutan.
Kegiatan MONEV ini dihadiri secara langsung oleh jajaran pimpinan dan dosen Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya, yaitu Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I. selaku Kepala Bagian Pendidikan Al Fithrah Surabaya, Ust. Abdullah, M.Pd. selaku Mudir ‘Amm Ma’had Aly Al Fithrah, Ust. Fathul Haris, M.Ag. selaku Wakil Mudir Bidang Kurikulum, Ust. Ahmad Jami’an selaku Wakil Mudir Bidang Kemahasantrian, Ust. Abdul Hadi MR, M.Pd. selaku Ketua MDTJ, serta Muhammad Nurush Shobah selaku Ketua LPPM.
Acara diawali dengan pembacaan Tawasul yang dipimpin oleh Ust. Fathur Rozi, selaku Kabag Pendidikan serta meluangkan sambutan pada acara tersebut. Dalam sambutannya, beliau berharap kepada para mahasantri untuk bisa maksimal dalam berkhidmah “dalam berkhidmah mari kita dasari dengan rasa Ikhlas, rasa tawakal dan rasa bertanggungjawab membawa amanat dari pondok.” Tegasnya. Secara konseptual, MONEV khidmah lulusan ini tidak diposisikan semata sebagai instrumen kontrol administratif, melainkan sebagai ruang akademik-dialogis untuk melakukan refleksi kritis terhadap praktik pengabdian lulusan di lapangan. Khidmah dipahami sebagai kelanjutan proses pendidikan Ma’had Aly, yakni sebagai medium aktualisasi integratif antara kompetensi keilmuan, etos pedagogik, spiritualitas pesantren, dan sensitivitas sosial.
Substansi dan Temuan MONEV Khidmah Lulusan
Berdasarkan pemaparan, dialog, dan evaluasi bersama, MONEV ini menghasilkan sejumlah temuan substantif yang dipetakan berdasarkan lokasi khidmah bahwa di Pondok Pesantren Al Fithrah Blitar, evaluasi menunjukkan bahwa koordinasi antar pengurus daerah masih belum berjalan secara kondusif, sehingga berdampak pada efektivitas pengelolaan kegiatan tiap harinya. Dalam praktiknya, kegiatan khidmah cenderung lebih mengedepankan peran Mahasantri Tugasan dibandingkan optimalisasi peran pengurus daerah. Meskipun demikian, pada sektor pendidikan terdapat perkembangan positif, yang ditandai dengan bertambahnya dua santri baru, sebagai indikator awal peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga.
Di wilayah lain Al Fithrah Lamongan, tantangan utama terletak pada minimnya dukungan struktural dalam upaya pengembangan lembaga pendidikan, sehingga proses penguatan institusional berjalan relatif lambat. Namun demikian, aspek syiar keagamaan dinilai telah berjalan dengan baik dan konsisten. Selain itu, terdapat capaian positif pada aspek wadifah, yang telah menjalin kerja sama dengan alumni Al Fithrah, sebagai bentuk penguatan jejaring sosial-keagamaan dan keberlanjutan tradisi pesantren.
Berikutnya di Al Fithrah Meteseh, lulusan khidmah menunjukkan kontribusi akademik yang cukup signifikan, antara lain dengan keterlibatan mereka sebagai penguji dalam kegiatan asesmen. Praktik wadifah juga berjalan secara terstruktur melalui pelaksanaan shalat malam rutin setiap malam Minggu, yang berfungsi sebagai penguatan spiritual kolektif. Di bidang pendidikan nonformal, Madrasah Diniyah (Madin) tercatat telah berjalan selama satu tahun, menandakan stabilitas program dan keberlangsungan pembinaan santri.
Sisi lain di Al Fithrah Pakal, bahwa hasil MONEV di Pakal menunjukkan adanya penguatan pada sektor pendidikan TPQ, disertai dengan peningkatan signifikan dalam administrasi pengelolaan santri selama enam bulan terakhir. Penambahan jumlah santri baru menjadi indikator positif pertumbuhan lembaga. Namun demikian, keterbatasan sarana prasarana, khususnya ruang belajar yang belum mengalami penambahan, masih menjadi kendala utama. Pada aspek wadifah, intensitas kegiatan masih relatif masif sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi lokal, sementara pada aspek syiar teridentifikasi kecenderungan menurun seiring berjalannya waktu, sehingga memerlukan evaluasi dan strategi penguatan lanjutan.
Di lingkungan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, MONEV mencatat dinamika yang cukup kompleks. Ditemukan adanya santri yang masih tidur di luar jam ideal kegiatan, serta kendala administratif terkait perizinan Unit MI. Masa khidmah lulusan ditegaskan terhitung satu tahun dan tidak lebih, dengan beban kegiatan yang relatif padat dan menyeluruh. Beberapa mahasantri menyampaikan kondisi kelelahan akibat intensitas aktivitas, kurangnya perhatian, serta adanya hambatan koordinatif dalam pelaksanaan tugas. Di Unit PDF Ulya Putri, mahasantri berperan sebagai penanggung jawab (PJ), sementara di RA Al Fithrah masih diperlukan penguatan dalam aspek pengelolaan dan pembelajaran.
Dengan demikian, Muhammad Nurush Shobah Selaku Ketua LPPM Ma’had Aly Al Fithrah menegaskan bahwa dari pemaparan Evaluasi dari mahasantri tersebut yang harus digarisbawahi ialah “ketika mentransformasikan ilmu kepada murid-murid dan santri-santri yang ada di madrasah ataupun di pondok pesantren, itulah yang dinamakan khidmah.” Tegasnya
Memang kalau kita ukur secara materi, khidmah tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan bekerja. Karena apa? Khidmah itu tatarattabu fiha al-barakah, wal kasbu yatarattabu fihi al-ujrah “khidmah itu konsekuensinya adalah berkah, sedangkan bekerja konsekuensinya adalah gaji”, tutur Shobah. Menurutnya, seorang guru ada SK-nya, ada jenjang pendidikan linieritas yang diwajibkan. Kemudian ada juga tunjangan-tunjangan, ditambah lagi dengan gaji gaji bulanan yang sudah ditetapkan. Itu semuanya harus sesuai dengan SK, sesuai dengan jenjang pendidikan yang dia dapatkan. Semuanya ter-SK, karena memang itu adalah gaji. Seorang pejabat, katakanlah dia ter-SK, gaji yang dia dapatkan itu pun juga sesuai dengan SK. “Lain halnya ketika seorang ustadz mengajarkan ilmu agama di pondok pesantren yang SK-nya lillahi ta’ala. Apa yang dia lakukan juga lillahi ta’ala. Semuanya itu adalah khidmah, tidak ada konsekuensi gaji di situ, yang ada adalah berkah. Ini yang harus kita kedepankan.” Tuturnya.
Pungkasnya “Ayo kita tanamkan jiwa di dalam diri kita. Insyallah apa yang kita lakukan menjadi amal shaleh untuk kita untuk guru kita Hadlrotusy Syaikh KH. Acmad Asrori Al-Ishaqy, untuk para ustadz dan yang disampaikan menjadi ilmu yang manfaat dan berkah. Amin ya rabbal ‘alamin,”
Walhasil, secara umum hasil MONEV khidmah lulusan Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya menunjukkan bahwa pengabdian lulusan telah memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan, syiar, dan kultur pesantren di berbagai wilayah. Namun demikian, temuan-temuan evaluatif ini juga menegaskan adanya tantangan struktural, koordinatif, dan keberlanjutan program yang perlu ditindaklanjuti secara sistematis.
Melalui kegiatan MONEV ini, Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya menegaskan bahwa khidmah lulusan tidak dipahami sebagai kewajiban temporal semata, melainkan sebagai proses pembelajaran lanjutan yang menuntut pendampingan, evaluasi berkelanjutan, dan penguatan kebijakan berbasis data lapangan. Dengan demikian, lulusan diharapkan mampu tampil sebagai subjek pengabdian yang profesional, reflektif, dan berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren dalam menjawab tantangan pendidikan Islam kontemporer.



