Monitoring dan Evaluasi Khidmah Lulusan Ma’had Aly Al-Fithrah Surabaya: Penguatan Mutu Pengabdian Berbasis Evaluasi dan Refleksi Akademik.

Sabtu (13/12) sekitar pukul 10:00 WIB. Sebagai bagian dari implementasi penjaminan mutu pendidikan dan pengabdian lulusan, Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya menyelenggarakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) Khidmah Lulusan Mahasantri secara hydbrid. Kegiatan ini dilaksanakan dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Al Fithrah Blitar, serta diikuti secara daring melalui platform Zoom meeting oleh para lulusan yang sedang menjalankan khidmah di berbagai unit dan Al Fithrah daerah. Adapun lokasi khidmah yang terlibat secara daring meliputi Al Fithrah Meteseh, Al Fithrah Lamongan, Al Fithrah Pakal, serta Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, yang mencakup Unit RA, MI, PDF Wustha, dan PDF Ulya. Pola pelaksanaan hybrid ini mencerminkan adaptasi kelembagaan Ma’had Aly Al Fithrah terhadap dinamika tata kelola pendidikan Islam kontemporer, sekaligus memastikan bahwa proses evaluasi khidmah dapat menjangkau seluruh lulusan secara efektif, inklusif, dan berkelanjutan. Kegiatan MONEV ini dihadiri secara langsung oleh jajaran pimpinan dan dosen Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya, yaitu Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I. selaku Kepala Bagian Pendidikan Al Fithrah Surabaya, Ust. Abdullah, M.Pd. selaku Mudir ‘Amm Ma’had Aly Al Fithrah, Ust. Fathul Haris, M.Ag. selaku Wakil Mudir Bidang Kurikulum, Ust. Ahmad Jami’an selaku Wakil Mudir Bidang Kemahasantrian, Ust. Abdul Hadi MR, M.Pd. selaku Ketua MDTJ, serta Muhammad Nurush Shobah selaku Ketua LPPM. Acara diawali dengan pembacaan Tawasul yang dipimpin oleh Ust. Fathur Rozi, selaku Kabag Pendidikan serta meluangkan sambutan pada acara tersebut. Dalam sambutannya, beliau berharap kepada para mahasantri untuk bisa maksimal dalam berkhidmah “dalam berkhidmah mari kita dasari dengan rasa Ikhlas, rasa tawakal dan rasa bertanggungjawab membawa amanat dari pondok.” Tegasnya. Secara konseptual, MONEV khidmah lulusan ini tidak diposisikan semata sebagai instrumen kontrol administratif, melainkan sebagai ruang akademik-dialogis untuk melakukan refleksi kritis terhadap praktik pengabdian lulusan di lapangan. Khidmah dipahami sebagai kelanjutan proses pendidikan Ma’had Aly, yakni sebagai medium aktualisasi integratif antara kompetensi keilmuan, etos pedagogik, spiritualitas pesantren, dan sensitivitas sosial. Substansi dan Temuan MONEV Khidmah Lulusan Berdasarkan pemaparan, dialog, dan evaluasi bersama, MONEV ini menghasilkan sejumlah temuan substantif yang dipetakan berdasarkan lokasi khidmah bahwa di Pondok Pesantren Al Fithrah Blitar, evaluasi menunjukkan bahwa koordinasi antar pengurus daerah masih belum berjalan secara kondusif, sehingga berdampak pada efektivitas pengelolaan kegiatan tiap harinya. Dalam praktiknya, kegiatan khidmah cenderung lebih mengedepankan peran Mahasantri Tugasan dibandingkan optimalisasi peran pengurus daerah. Meskipun demikian, pada sektor pendidikan terdapat perkembangan positif, yang ditandai dengan bertambahnya dua santri baru, sebagai indikator awal peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga. Di wilayah lain Al Fithrah Lamongan, tantangan utama terletak pada minimnya dukungan struktural dalam upaya pengembangan lembaga pendidikan, sehingga proses penguatan institusional berjalan relatif lambat. Namun demikian, aspek syiar keagamaan dinilai telah berjalan dengan baik dan konsisten. Selain itu, terdapat capaian positif pada aspek wadifah, yang telah menjalin kerja sama dengan alumni Al Fithrah, sebagai bentuk penguatan jejaring sosial-keagamaan dan keberlanjutan tradisi pesantren. Berikutnya di Al Fithrah Meteseh, lulusan khidmah menunjukkan kontribusi akademik yang cukup signifikan, antara lain dengan keterlibatan mereka sebagai penguji dalam kegiatan asesmen. Praktik wadifah juga berjalan secara terstruktur melalui pelaksanaan shalat malam rutin setiap malam Minggu, yang berfungsi sebagai penguatan spiritual kolektif. Di bidang pendidikan nonformal, Madrasah Diniyah (Madin) tercatat telah berjalan selama satu tahun, menandakan stabilitas program dan keberlangsungan pembinaan santri. Sisi lain di Al Fithrah Pakal, bahwa hasil MONEV di Pakal menunjukkan adanya penguatan pada sektor pendidikan TPQ, disertai dengan peningkatan signifikan dalam administrasi pengelolaan santri selama enam bulan terakhir. Penambahan jumlah santri baru menjadi indikator positif pertumbuhan lembaga. Namun demikian, keterbatasan sarana prasarana, khususnya ruang belajar yang belum mengalami penambahan, masih menjadi kendala utama. Pada aspek wadifah, intensitas kegiatan masih relatif masif sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi lokal, sementara pada aspek syiar teridentifikasi kecenderungan menurun seiring berjalannya waktu, sehingga memerlukan evaluasi dan strategi penguatan lanjutan. Di lingkungan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, MONEV mencatat dinamika yang cukup kompleks. Ditemukan adanya santri yang masih tidur di luar jam ideal kegiatan, serta kendala administratif terkait perizinan Unit MI. Masa khidmah lulusan ditegaskan terhitung satu tahun dan tidak lebih, dengan beban kegiatan yang relatif padat dan menyeluruh. Beberapa mahasantri menyampaikan kondisi kelelahan akibat intensitas aktivitas, kurangnya perhatian, serta adanya hambatan koordinatif dalam pelaksanaan tugas. Di Unit PDF Ulya Putri, mahasantri berperan sebagai penanggung jawab (PJ), sementara di RA Al Fithrah masih diperlukan penguatan dalam aspek pengelolaan dan pembelajaran. Dengan demikian, Muhammad Nurush Shobah Selaku Ketua LPPM Ma’had Aly Al Fithrah menegaskan bahwa dari pemaparan Evaluasi dari mahasantri tersebut  yang harus digarisbawahi ialah “ketika mentransformasikan ilmu kepada murid-murid dan santri-santri yang ada di madrasah ataupun di pondok pesantren, itulah yang dinamakan khidmah.” Tegasnya Memang kalau kita ukur secara materi, khidmah tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan bekerja. Karena apa? Khidmah itu tatarattabu fiha al-barakah, wal kasbu yatarattabu fihi al-ujrah “khidmah itu konsekuensinya adalah berkah, sedangkan bekerja konsekuensinya adalah gaji”, tutur Shobah. Menurutnya, seorang guru ada SK-nya, ada jenjang pendidikan linieritas yang diwajibkan. Kemudian ada juga tunjangan-tunjangan, ditambah lagi dengan gaji gaji bulanan yang sudah ditetapkan. Itu semuanya harus sesuai dengan SK, sesuai dengan jenjang pendidikan yang dia dapatkan. Semuanya ter-SK, karena memang itu adalah gaji. Seorang pejabat, katakanlah dia ter-SK, gaji yang dia dapatkan itu pun juga sesuai dengan SK.  “Lain halnya ketika seorang ustadz mengajarkan ilmu agama di pondok pesantren yang SK-nya lillahi ta’ala. Apa yang dia lakukan juga lillahi ta’ala. Semuanya itu adalah khidmah, tidak ada konsekuensi gaji di situ, yang ada adalah berkah. Ini yang harus kita kedepankan.” Tuturnya. Pungkasnya “Ayo kita tanamkan jiwa di dalam diri kita. Insyallah apa yang kita lakukan menjadi amal shaleh untuk kita untuk guru kita Hadlrotusy Syaikh KH. Acmad Asrori Al-Ishaqy, untuk para ustadz dan yang disampaikan menjadi ilmu yang manfaat dan berkah. Amin ya rabbal ‘alamin,” Walhasil, secara umum hasil MONEV khidmah lulusan Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya menunjukkan bahwa pengabdian lulusan telah memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan, syiar, dan kultur pesantren di berbagai wilayah. Namun demikian, temuan-temuan evaluatif ini juga menegaskan adanya tantangan struktural, koordinatif, dan keberlanjutan program yang perlu ditindaklanjuti secara sistematis. Melalui kegiatan MONEV ini, Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya menegaskan bahwa khidmah lulusan tidak dipahami sebagai kewajiban temporal semata, melainkan sebagai proses pembelajaran lanjutan yang menuntut pendampingan, evaluasi berkelanjutan,

Mudir Ma’had Aly Al Fithrah Ikuti Muktamar Perdana Ilmu ‘Arudh di UIN Sunan Ampel Surabaya

Ma’had Aly Al Fithrah — Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar seminar perdana bertajuk “Muktamar ‘Arudh: Revitalisasi Ilmu ‘Arudh – Tradisi, Inovasi, dan Tantangan di Era Digital-AI”, Jumat (24/10/2025). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 16.30 WIB ini menjadi langkah awal kampus tersebut dalam menghidupkan kembali keilmuan klasik pesantren, khususnya ilmu ‘arudh, cabang ilmu yang mengkaji kaidah dan struktur ritme dalam puisi Arab. Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Akh. Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga hubungan erat antara kampus dan pesantren. “Kampus ini tidak bisa jauh-jauh dari kiai, tidak bisa jauh-jauh dari pesantren. Maka kampus ini tidak boleh meninggalkan kiai, tidak boleh meninggalkan pesantren—termasuk seluruh ilmu yang diwariskan para ulama,” ujar Muzakki dalam pidato kuncinya. Ia menambahkan, muktamar ini merupakan bagian dari komitmen UINSA untuk “Ihya’ Ulumiddin versi kampus”, yakni menghidupkan kembali khazanah keilmuan Islam yang mulai jarang diajarkan, termasuk ilmu ‘arudh yang kini hampir terlupakan di sebagian pesantren. “Ini adalah upaya melestarikan dan merevitalisasi keilmuan Islam yang termasuk kategori langka,” imbuhnya. Turut hadir dalam acara tersebut Mudir Ma’had Aly Al Fithrah Ustadz Abdullah,  beliau menilai inisiatif UINSA patut diikuti oleh lembaga pesantren lain. “Dulu, ilmu ‘arudh ini diajarkan di kelas dua Aliyah di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Saya sendiri pernah belajar kepada Ustaz Sulaiman, alumni Al Falah Ploso, Kediri. Kini sudah saatnya ilmu ini dihidupkan kembali, setidaknya di Ma’had Aly,” tuturnya. Muktamar ini juga menghadirkan sejumlah narasumber terkemuka, antara lain Drs. KH. Muh. Alwi Yunus, M.Ag.; KH. Nuris Zain Tibyan; Dr. (H.C.) KH. Zulfa Mustofa; serta Prof. Dr. Mas’an Hamid, M.Ag., dosen senior UINSA yang akan memasuki masa purnabakti beberapa bulan mendatang. Selain muktamar ilmu ‘arudh, UIN Sunan Ampel juga berencana menggelar muktamar-muktamar lain yang berfokus pada keilmuan pesantren, seperti ilmu falak, ilmu waris, hadis, mantiq, dan ilmu qira’ah. Dari forum ini, peserta merumuskan sejumlah rekomendasi penting, di antaranya pengangkatan H. Abdul Wahab Naf’an, M.A., Ph.D. sebagai Ketua Asosiasi Pemerhati Ilmu ‘Arudh, integrasi ilmu ‘arudh ke dalam kurikulum pesantren, serta penambahan durasi mata kuliah ‘arudh di perguruan tinggi. Muktamar ‘Arudh ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan kembali khazanah keilmuan Islam klasik di era digital, serta memperkuat peran kampus dalam menjembatani tradisi pesantren dengan inovasi akademik modern.

Kepala Perpustakaan Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya Ikuti Pelatihan Pengelolaan Perpustakaan Pesantren di UIN KHAS Jember

Ma’had Aly Al Fithrah — Kepala Perpustakaan Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya, Muhammad Romli, mengikuti kegiatan Pelatihan Pengelolaan Perpustakaan Berbasis Pesantren yang diselenggarakan oleh UPT Perpustakaan Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, Senin–Rabu (20–22/10/2025), di Aula Perpustakaan UIN KHAS. Pelatihan ini diikuti oleh 53 peserta dari berbagai pondok pesantren di Jawa Timur, mencakup wilayah Jember, Banyuwangi, Lumajang, Bondowoso, Probolinggo, Pasuruan, hingga Surabaya. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian dalam menyambut peringatan Hari Santri Nasional 2025, sekaligus bagian dari upaya memperkuat tradisi literasi di lingkungan pesantren. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas pengelola perpustakaan pesantren dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman. Fokus pelatihan diarahkan pada penguatan literasi pesantren, pelestarian manuskrip kuno, serta digitalisasi koleksi. UIN KHAS Jember sendiri menjadi PTKIN pelopor dalam pengembangan literasi dan pelestarian khazanah pesantren berbasis digital. Kepala Perpustakaan Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya, Muhammad Romli, menyampaikan bahwa pelatihan ini menjadi langkah penting untuk menjaga tradisi tulis ulama serta meningkatkan kemampuan pengelolaan perpustakaan pesantren. “Acara ini diselenggarakan dalam rangka melestarikan manuskrip kuno pesantren serta peningkatan SDM literasi pesantren agar senantiasa mampu menjawab tantangan zaman,” ujarnya. Selama tiga hari, peserta mendapatkan berbagai materi yang relevan dengan pengelolaan perpustakaan pesantren, antara lain: Para pemateri berasal dari berbagai latar belakang praktisi dan akademisi yang berkompeten di bidangnya. Materi-materi tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan para peserta dalam mengelola perpustakaan secara profesional, kontekstual, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Salah satu pemateri, film maker pesantren Yusrizal Nugroho, menyampaikan pandangannya mengenai posisi pesantren di tengah arus konten digital. Ia menilai pesantren sering kali terkesan terpojok bukan semata karena pihak pesantren, melainkan karena banyak konten yang dibuat belum memiliki substansi yang kuat. “Keterpojokan pesantren hari ini tidak serta-merta bisa kita salahkan dari pihak mereka. Besar kemungkinan konten-konten yang ada di pesantren cenderung hanya mencari viral. Konten hanya sekadar seremonial, sehingga kurang sarat akan pesan,” paparnya. Ia menambahkan bahwa lemahnya substansi konten ini sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai pesantren. “Akibatnya, konten tersebut mudah untuk diframing oleh beberapa oknum yang tidak suka dengan pesantren,” ujarnya. Materi penting lainnya adalah sesi praktik digitalisasi manuskrip pesantren. Dalam sesi ini, Fiqru Mafar menyampaikan pentingnya menjaga tradisi literasi ulama terdahulu melalui penjagaan dan digitalisasi manuskrip para kiai. “Pesantren harus menjaga tradisi literasi ulama terdahulu melalui penjagaan dan digitalisasi manuskrip para kiai serta mengkajinya dengan serius, sehingga khazanah ulama terdahulu akan senantiasa bermanfaat bagi generasi ke depan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa manuskrip hasil digitalisasi sebaiknya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. “Bahkan, jika diperlukan manuskrip tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga dengan begitu khazanah keilmuan pesantren akan tersebar luas ke lapisan masyarakat,” tambahnya. Sesi berikutnya menghadirkan Tunggul Harwanto, pendiri Rumah Literasi Indonesia, yang menekankan pentingnya gerakan literasi pesantren yang kontekstual dan dekat dengan generasi muda. “Literasi pesantren harus memiliki visi misi kontekstual sehingga darurat literasi hari ini dapat teratasi dengan baik. Pengenalan literasi terhadap generasi sekarang harus menyesuaikan dengan kebutuhan mereka, sehingga ketertarikan generasi muda terhadap literasi akan semakin tinggi,” jelasnya. Menurutnya, membiasakan anak untuk membaca tidak dapat dilakukan dengan paksaan. “Urutan pembinaan literasi anak hari ini bukan dengan memaksa mereka membaca, akan tetapi beri mereka manfaat membaca melalui contoh yang kontekstual. Sebagai pengelola perpustakaan, kita harus inovatif untuk membuat gerakan literasi sehingga anak akan merasa bahwa ia perlu untuk membaca lebih dalam,” tambahnya. Muhammad Romli menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan banyak pengalaman dan wawasan baru bagi pengelola perpustakaan pesantren. Ia menilai kegiatan ini penting sebagai bentuk kesadaran kolektif untuk menjaga khazanah keilmuan ulama dan memperkenalkan pesantren melalui media yang kreatif dan edukatif. “Acara ini membangun kesadaran pentingnya menjaga tradisi tulis ulama dan memperkenalkan pesantren melalui media kreatif yang edukatif,” ungkapnya. Melalui pelatihan ini, para peserta mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai pengelolaan perpustakaan pesantren di era digital, mulai dari pelestarian manuskrip, pengembangan literasi, hingga penguatan peran perpustakaan sebagai pusat pengetahuan di lingkungan pesantren. Perpustakaan Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya berharap keikutsertaan dalam kegiatan ini dapat menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pengelolaan perpustakaan di internal pesantren serta memperluas jejaring literasi dengan berbagai lembaga pesantren di Indonesia.

Kepemimpinan Baru, Langkah Baru Menuju Al Fithrah yang lebih Berkah

Surabaya, 30 September 2025 — Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya menggelar acara Estafet Kepemimpinan sebagai momentum penting dalam pergantian kepengurusan pesantren menuju periode baru 2025–2029. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Al Fithrah ini diawali dengan pembacaan tawassul, istighotsah, dan maulidul hubbi, sesuai arahan para guru. Ustadz Mustaqim, M.Ag., selaku Ketua Komisi Pemilihan Umum Kepengurusan Pesantren (KPUKP), menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bagian dari upaya menentukan arah dan strategi Al Fithrah untuk empat tahun mendatang. “Acara estafet kepemimpinan ini akan menjadi momentum yang menentukan masa depan Al Fithrah dalam empat tahun ke depan,” ujarnya. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya periode 2025–2029, Ustadz Nashiruddin, M.Pd., menyampaikan pesan dan harapan besar bagi seluruh jajaran pengurus. “Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah harus menjadi contoh terdepan dalam hal pendidikan, kewadzifahan, administrasi, dan keuangan,” tuturnya. Beliau juga mengingatkan pesan Hadlratusy Syaikh agar Al Fithrah senantiasa menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai agama dan akhlak. Di akhir sambutannya, beliau memohon bimbingan serta nasihat dari para guru dan dewan penasihat demi tercapainya kepemimpinan yang lebih baik dan penuh keberkahan. Acara ini sekaligus menjadi ajang pelantikan resmi pengurus Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah periode 2025–2029, sebagai wujud komitmen dalam meneruskan visi pesantren menuju kemajuan dan keberkahan yang berkelanjutan.

BOOK FAIR Ma’had Aly Al Fithrah 2025: Menyemai Semangat Literasi di Era Digital

Surabaya (23–31 Agustus 2025) – Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya kembali menghadirkan semangat literasi melalui BOOK FAIR MA’HAD ALY AL FITHRAH 2025. Acara yang digelar sejak 23 hingga 31 Agustus di sebelah selatan gedung Ma’had Aly ini menjadi ajang bertemunya santri, mahasantri, dosen, dan masyarakat dengan dunia literasi di tengah derasnya arus digital. Pimpinan Ma’had Aly menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang jual beli buku, tetapi juga upaya menghidupkan budaya membaca di lingkungan pesantren. Ketua panitia menambahkan, book fair ini diharapkan mampu memperluas wawasan santri dan masyarakat umum serta menjadi sarana mudah untuk mendapatkan bacaan bermutu. Tahun ini, book fair menyediakan delapan meja dan satu rak buku dengan koleksi lebih dari 1.000 judul. Ragam buku yang dipamerkan sangat luas, mulai dari novel Islami, sejarah, filsafat, tasawuf, fiqih, hingga bisnis dan ekonomi. Penerbit besar seperti Gramedia dan Diva Press turut meramaikan pameran, bersama sejumlah penerbit independen. Meski tanpa data resmi jumlah pengunjung, kegiatan terlihat ramai dan mendapat antusias tinggi. “Book fair ini membantu kami menemukan buku-buku rujukan perkuliahan yang sulit didapat di toko biasa,” ungkap salah seorang pengunjung. Perwakilan penerbit pun menyambut baik agenda ini. “Ini bukan hanya pasar buku, tetapi juga ruang silaturahmi antara penerbit dan pembaca,” ujarnya. BOOK FAIR Ma’had Aly Al Fithrah telah menjadi agenda tahunan sejak tahun lalu dan akan terus dilanjutkan. Panitia berharap kegiatan ini tumbuh lebih besar setiap tahun, sehingga literasi semakin dikenal di lingkungan pesantren maupun masyarakat umum. Dengan hadirnya ribuan buku dan semangat kebersamaan, BOOK FAIR 2025 membuktikan bahwa pesantren tetap menjaga tradisi literasi, sekaligus meneguhkan peran buku di tengah perkembangan zaman.

BAZNAS Luncurkan Beasiswa Cendekia 2025, Ma’had Aly Al Fithrah perkuat Mitra Beasiswa Cendikia BAZNAS 2025

Jakarta – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia secara resmi meluncurkan Program Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB) Tahun 2025, Senin (4/8), bertempat di Graha Utama Gedung A Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI, Jakarta. Peluncuran program ini menandai dimulainya pendistribusian beasiswa kepada mahasiswa dari 183 perguruan tinggi mitra se-Indonesia, sebagai bagian dari upaya BAZNAS dalam membentuk generasi emas yang unggul secara akademik, spiritual, dan sosial. Salah satu lembaga yang hadir langsung dalam peluncuran ini adalah Ma’had Aly Al Fithrah Surabaya. Hadir sebagai delegasi dari Ma’had Aly Al Fithrah, Naib Mudir Bidang Kesiswaan, Abdullah, didampingi oleh Kepala Bagian Tata Usaha, Choirul Anam. Dalam keterangannya, keduanya menyampaikan komitmen penuh lembaga untuk terus menjadi bagian dari program strategis nasional ini. “Kami akan terus berkomitmen agar kami terus menjadi bagian dari program beasiswa BAZNAS ini, untuk membantu keberlangsungan perkuliahan mahasantri, selain itu untuk meningkatkan kualitas mahasantri dari segi mental dan kemandirian, move on dari mustahiq menjadi muzakki, sebagaimana yang diharapkan oleh BAZNAS,” ujar Abdullah. Sebagai bentuk implementasi awal, Ma’had Aly Al Fithrah akan menyeleksi sebanyak 30 mahasantri, yang sebagian besar merupakan mahasiswa semester awal. “Kami akan menseleksi 30 mahasantri yang sudah terdaftar sebagai mahasantri Ma’had Aly, yang sebagian besar dari semester satu,” tambah Choirul Anam. Lebih lanjut, pihak Ma’had Aly menyampaikan bahwa lembaga akan memberikan bimbingan bertahap dan berkelanjutan kepada calon penerima, guna memastikan penyaluran beasiswa berlangsung tepat sasaran dan berdampak nyata bagi perkembangan akademik dan karakter mahasiswa. Ketua BAZNAS RI, Prof. Dr. KH Noor Achmad, M.A., dalam sambutannya mengungkapkan bahwa proses seleksi kampus mitra dilakukan secara ketat dan hanya kurang dari 10 persen perguruan tinggi di Indonesia yang lolos menjadi mitra. “Kami jaga kualitas agar para penerima beasiswa ini benar-benar bisa menjadi duta zakat dan agen perubahan,” ungkapnya. Senada, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, M.A., menambahkan bahwa beasiswa ini tidak hanya sebatas dukungan pendidikan, tetapi juga bagian dari gerakan dakwah sosial. “Ini bukan sekadar bantuan pendidikan, tapi misi dakwah sosial dan gerakan kebaikan,” tegasnya. Dengan semangat kolaboratif dan visi pemberdayaan, keterlibatan Ma’had Aly Al Fithrah diharapkan menjadi bagian penting dalam mencetak kader ulama dan intelektual Muslim yang berdaya, mandiri, dan mampu berkontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

Dosen Ma’had Aly Al-Fithrah Jadi Delegasi PPWK PBNU 2025

SURABAYA,— Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) sebagai upaya memperkuat kapasitas ulama di tengah derasnya arus digitalisasi. Kegiatan ini berlangsung pada 17–20 Juli 2025 di Oakwood Hotel & Residence, Surabaya. Hadir dalam kegiatan ini sejumlah tokoh penting PBNU dan Nasional, seperti Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Rais ‘Aam KH Miftachul Akhyar, KH Mustofa Bisri, KH Said Aqil Siroj. Ketua Panitia PPWK, Prof Dr (Hc) Mohammad Nuh DEA, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan daya respons ulama terhadap dinamika zaman yang kian kompleks. “PPWK bukan sekadar pelatihan, tetapi ruang dialektika antara logika Nabi Musa dan hikmah Nabi Khidzir. Ulama bukan hanya teknis, tapi juga harus mampu menjawab kebutuhan sosial masyarakat,” ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu. Sejumlah narasumber nasional hadir dalam forum ini, seperti Wakil Presiden RI ke-13 KH Ma’ruf Amin, serta Menteri Agama RI Prof KH Nazaruddin Umar, serta para kiai sepuh dari berbagai wilayah di Indonesia. Wakil Rais ‘Aam PBNU, KH Anwar Iskandar, menambahkan bahwa posisi ulama dalam NU adalah sentral dan tidak dapat tergantikan. Hal ini merujuk pada Qanun Asasi yang dirumuskan oleh pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. “Ulama itu pemilik sah Nahdlatul Ulama, yang lain hanya pengikut. Maka kualitas dan kapasitas ulama harus terus ditingkatkan agar siap menghadapi perubahan zaman,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya pemerataan distribusi kader ulama, khususnya di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), seperti Mentawai, Timika, Manggarai Barat, serta Papua Pegunungan, yang hingga kini belum memiliki syuriah. Salah satu peserta PPWK, Ustadz Abdulloh, dosen Ma’had Aly Al-Fithrah Surabaya, mengaku bersyukur bisa ikut dalam kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan seperti ini perlu dilakukan secara rutin mengingat tantangan zaman semakin kompleks. “Saya merasa sangat bahagia bisa belajar langsung dari para ulama Nusantara dan mendapatkan banyak wawasan baru. PPWK membuka ruang untuk meng-upgrade diri dan memperluas cakrawala pemikiran dalam menghadapi problem keummatan,” ungkapnya. Menurutnya, tantangan yang dihadapi para ulama saat ini bukan sekadar wacana keagamaan, melainkan juga tekanan sosial dan ekspektasi masyarakat yang kerap kali keliru dalam memposisikan ulama. “Sekarang ada kecenderungan masyarakat seolah-olah bisa ‘memesan’ fatwa sesuai kehendak. Maka perlu ditegaskan kembali bahwa ulama adalah benteng utama syariat, yang tidak bisa diintervensi oleh kepentingan pragmatis,” ujar Abdulloh. Ia mencontohkan isu sound system berlebihan atau “sound horeg” yang turut menjadi bahan diskusi dalam pelatihan tersebut. Baginya, ulama perlu tetap teguh pada prinsip syariat, bukan tunduk pada tekanan budaya populer. PPWK diselenggarakan dengan pendekatan interaktif seperti diskusi kelompok terfokus (FGD), simulasi kepemimpinan, kajian studi kasus, serta jejaring antarwilayah lintas generasi. Harapannya, lahir kader ulama yang tanggap terhadap isu-isu sosial, kebangsaan, dan global. Dalam sambutan penutupnya, Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menegaskan bahwa seorang kiai atau ulama harus memandang umat dengan kasih sayang. Kiyahi: al-ladzīna yanzhurūna ilā al-ummah bi ‘ayni ar-raḥmah“Kiai adalah mereka yang melihat umat dengan pandangan kasih sayang,” tegasnya. Menurut KH Miftachul, prinsip tersebut bersumber dari Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 128: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” Ia menambahkan, ulama adalah sosok yang tidak sanggup melihat penderitaan umat dan karenanya disebut sebagai pewaris Nabi, bukan hanya dalam ilmu, tetapi juga dalam kasih sayang terhadap umat Islam.

Ma’had Aly Al-Fithrah Surabaya Laksanakan Seleksi Tahap II Beasiswa M1 LPPD Jatim

Surabaya — Ma’had Aly Al-Fithrah Surabaya turut melaksanakan Seleksi Tahap II Program Beasiswa Marhalah ‘Ula (M1) yang diselenggarakan serentak oleh Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Jawa Timur, Jumat (20/6/2025). Seleksi ini merupakan lanjutan dari rangkaian penjaringan calon penerima beasiswa M1 yang diadakan secara serentak di seluruh Ma’had Aly penerima program di Jawa Timur, pada 20–21 Juni 2025. Tujuannya adalah untuk menjaring calon mahasiswa terbaik yang layak menerima beasiswa pendidikan lanjutan di tingkat Ma’had Aly. Kegiatan diawali dengan pembacaan tawassul yang dipimpin oleh Ustadz Achmad Imam Bashori M.Th.I sebagai bentuk ikhtiar batin agar rangkaian seleksi berjalan lancar dan penuh keberkahan. Mudir Ma’had Aly Al-Fithrah, Ustadz Ahmad Syatori M.Fil.I, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pihak yang terlibat. Ia menekankan pentingnya kesungguhan dan kesiapan para peserta dalam mengikuti seleksi ini. Sementara itu, Ketua LPPD Jawa Timur, Prof. Dr. Abdul Halim Subahar, M.A., dalam arahannya menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah provinsi untuk mempercepat pengembangan kualitas sumber daya manusia pesantren. “Yakin saja bahwa kalian adalah bagian dari yang terbaik. Jangan takut, jangan gugup. Tenang saja, karena yang akan lolos adalah yang paling siap dan berbarokah,” pesannya memberi semangat. Selanjutnya, KH. A. Muktam Mukhtar, M. Pd.I memberikan pengarahan kepada peserta. Ia menegaskan bahwa meskipun kuota terbatas, peluang untuk melanjutkan pendidikan tetap terbuka bagi semua santri yang bersungguh-sungguh. “Ilmu yang kalian bawa adalah bekal utama. Jangan berkecil hati. Lulusan Ma’had Aly kini telah diakui secara nasional, bahkan berpeluang menjadi ASN berkat Undang-Undang Pesantren,” ujarnya. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Nasiruddin M.Pd sebelum peserta memasuki ruang ujian. Adapun ujian inti yang dilaksanakan berupa tes membaca kitab kuning. Di Ma’had Aly Al-Fithrah, kitab yang diujikan adalah Mau’idzatul Mu’minin, sesuai dengan fokus kajian keilmuan yang dikembangkan. Para peserta diuji dalam kemampuan membaca, menerjemahkan, dan memahami isi kitab secara mendalam oleh Drs. KH. A. Muktam Mukhtar, M.Pd.I.

Ma’had Aly dan MDT Al-Jami’ah Al-Fithrah Adakan Acara Penutupan Masa Khidmah Mahasantri Tugasan Tahun Ajaran 2024-2025 M/1445-1446 H

Acara dilaksanakan di gedung auditorium pondok pesantren Al-Fithrah Surabaya. yang dihadiri oleh Ust. Kunawi, M.Pd, selaku kepala pondok pesantren Al-Fithrah, Ust. Nashiruddin, M.Pd, selaku Kepala Bagian (Kabag) Pendidikan, Ust. Ahmad Syathori, M.Fil.I selaku Mudir Ma’had Aly dan Ma’had Diniyah Takmiliyah al-Jami’ah Al-Fithrah dan para dosen serta tenaga kependidikan yang turut menghadiri acara tersebut. Dihadiri juga oleh para mahasantri tugasan beserta sebagian dari wali santri. Acara dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan pembacaan beberapa bacaan keagamaan yang dipimpin oleh Ust. Ahmad Syathori, Ust. Nashiruddin, dan Ust. Nur Yasin, M.Pd secara bergantian. Selesainya pembacaan tersebut, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Ust. Kunawi, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa, “Para santri yang telah menyelesaikan masa tugasannya, secara adminitratif sudah tidak bersangkutan lagi sama pondok pesantren dan bisa berkhidmah di Al-Fithrah Surabaya juga Al-Fithrah daerah lain selain di Surabaya”. Lebih lanjut, beliau juga menyampaikan bahwa, “Para Mahasantri, para anak-anak kita meskipun sudah lulus, dimanapun kalian berada, tetaplah melaksanakan wadhifah daripada Hadrotussyaikh. Mudah-mudahan apa yang telah kita kerjakan untuk pondok pesantren ini, bisa diterima oleh Hadrotussyaikh romo yai Ahmad Asrori”. Tidak lupa juga ia ucapkan permohonan maaf juga rasa terimakasih kepada segenap wali santri yang telah hadir pada acara tersebut. Selesainya sambutan, acara diteruskan dengan sesi tanya jawab yang dipimpin oleh Ust. Yasin, Ust. Nashiruddin, dan Ust. Mustaqim, M.Fil.I. Setelah sesi tanya jawab, kemudian diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ust. Dr. Fathur Rozi, M.H.I. Acara Penutupan Masa Khidmah berlangsung dengan Khidmat dari awal hingga penghujung acara.

Panggung Demokrasi: Debat Capres Mahasantri Ma’had Aly Al Fithrah Mengguncang Semangat Pemilu Raya 2025

SURABAYA, MA’HAD ALY AL FITHRAH – Sorak antusias dan semangat membara menyelimuti aula kantor PW PP. Assalafi Alfithrah pada Jumat, (10/01/2025). Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) BEM Ma’had Aly Alfithrah mempersembahkan sebuah ajang yang mendebarkan: debat kandidat Calon Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa periode 2025/2026.Debat ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan panggung penuh gagasan visioner, strategi membangun, dan asa perubahan dari dua pasangan calon (paslon) yang siap bertarung dalam Pemilu Raya. Para pendukung memadati ruangan, menanti dengan penuh harap momen bersejarah ini. Di antara mereka hadir sosok-sosok penting yang memberi bobot pada suasana: Ustadz Muhamad Romli, S.Pd., sebagai perwakilan staf Ma’had Aly Al Fithrah sekaligus panelis utama, serta Ustadz Muhamad Fathullah Kholil, S.Ag., perwakilan alumni yang disegani sekaligus sebagai panelis kedua. Moderator Abdul Wasik, mahasiswa semester 6, memimpin jalannya debat dengan ketegasan yang elegan, memastikan setiap argumen tersampaikan dengan adil. Debat ini dibagi menjadi empat sesi yang mencakup perkenalan dan penyampaian visi misi, sesi tanya jawab dari panelis dan audiens, serta penyampaian pernyataan penutup dari masing-masing paslon. Paslon nomor urut 1, Erik Zulfa, menyulut semangat dengan visinya: Menjadi wasilah antara mahasiswa dan institusi untuk mewujudkan visi Ma’had Aly. Ia mengajukan misi besar yang berakar pada tiga pilar: Paslon nomor urut 2, Habib Alif Wadziqri, memancarkan optimisme dalam visinya: Menjadikan BEM sebagai penggerak perubahan yang memadukan intelektualitas dan kerja sama untuk menciptakan mahasantri berdaya tinggi dan berakhlak mulia. Misinya menjanjikan dinamika baru: Sesi diskusi yang memanas menghasilkan sorak-sorai dan tepukan meriah dari audiens. Ustadz Muhamad Romli mengingatkan pentingnya pemimpin yang tangguh dan komunikator baik. Beliau juga berharap presiden BEM ke depan dapat membawa Ma’had Aly Al Fithrah menjadi lebih maju dan berkembang.  “Semoga presiden mahasiswa terpilih mampu memberikan kemajuan yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan oleh mahasantri dan dosen, serta memiliki program yang meningkatkan kualitas mahasantri untuk kemajuan lembaga tercinta”. Selain itu, Ustadz Muhamad Fathullah Kholil juga menyelipkan harapan penuh makna, beliau berharap warisan dari Guru Besar kita berupa amaliah ini dapat terus dijaga dengan serius. “Siapa pun yang terpilih, semoga dapat menggerakkan kegiatan amaliah dan menghidupkan kembali aktivitas di masjid”. Debat penuh gairah ini telah mengukir tonggak demokrasi di Ma’had Aly Alfithrah. Kini, harapan melambung tinggi di setiap hati mahasantri, menantikan pemimpin yang akan membawa perubahan nyata di bawah panji keberanian dan intelektualitas (red/Rur).

Antusiasme Warnai Sosialisasi Ma’had Aly Pondok Pesantren Assalafi Al-Fithrah

Surabaya, MA’HAD ALY AL FITHRAH –  Ma’had Aly Al Fithrah memberikan sosialisasi perguruan tinggi kepada santri PDF Ulya, pada (Senin, 06/01/24). Bertempat di auditorium pesantren, acara tersebut dihadiri oleh para dosen, mahasantri, narasumber, serta siswa kelas XII. Dengan rangkaian acara yang tersusun apik, kegiatan berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Sesi awal dimulai dengan tawassul fatihah, istighasah, dan pembacaan shalawat Fihubbi. Selanjutnya, para peserta disuguhkan tayangan profil Ma’had Aly yang memperkenalkan sejarah dan visi lembaga tersebut. Sambutan-sambutan turut menghangatkan suasana sebelum memasuki acara inti berupa talk show yang menghadirkan tiga narasumber kompeten. Cak Nasihuddin berbicara mengenai aspek pendidikan, Ustadz Fatah mengupas pengabdian, dan Ustadz Andriyan menyoroti aspek keilmuan yang menjadi pilar utama Ma’had Aly. Dalam paparannya, Cak Nasihuddin menegaskan pentingnya pendidikan berbasis turats sebagai jantung dari Ma’had Aly. Dia menyampaikan bahwa keunggulan Ma’had Aly terletak pada penguasaan kitab kuning yang membedakan lembaga ini dari perguruan tinggi lainnya. “Pendidikan di Ma’had Aly mencetak ulama dan intelektual yang memadukan tradisi klasik dengan tantangan kontemporer,” tuturnya penuh semangat. Setelah sesi pemaparan, para siswa kelas XII tak menyia-nyiakan kesempatan untuk bertanya. Tiga pertanyaan diajukan sebelum waktu salat asar tiba. Salah satu peserta menyatakan kekhawatirannya mengenai tantangan membaca kutubu turats, yang dinilai cukup berat. “Kami takut kurang mampu mengikuti pelajaran berbasis kitab kuning,” ungkap seorang santri dengan jujur. Merespons hal ini, Ustadz Haris, dosen senior di Ma’had Aly Al Fithrah, memberikan penjelasan yang menenangkan. Dia menekankan bahwa Ma’had Aly menyediakan bimbingan khusus berupa setoran baca kitab di luar jam kuliah. “Kami menyediakan waktu khusus, bahkan dari pagi hingga sore saya dan Ustadz Abdullah siap menunggu mahasiswa yang ingin menyetor bacaan kitab,” ujar Ustadz Haris, menggambarkan dedikasi para dosen. Kegiatan sosialisasi ini mendapat apresiasi luas. Salah satu dosen menyebutnya sebagai upaya penting untuk memperkenalkan Ma’had Aly kepada calon mahasiswa. “Sosialisasi seperti ini penting agar generasi muda memahami bahwa Ma’had Aly adalah pilihan yang layak untuk melanjutkan pendidikan,” ungkapnya. Acara yang berlangsung sukses ini diharapkan menjadi langkah awal yang menginspirasi para santri kelas XII untuk meniti jalur pendidikan tinggi di Ma’had Aly. Dengan semangat yang tertanam sejak dini, diharapkan semakin banyak generasi muda yang siap memperkaya khazanah ilmu pengetahuan Islam melalui jalur tradisional yang kokoh (red./erick).