Surabaya, Mahaf — Sabtu pagi (19/7/2025), langit Surabaya masih berbalut awan tipis ketika Aula Ma’had Aly Al Fithrah mulai ramai oleh kedatangan puluhan orang tua mahasantri baru. Wajah-wajah penuh harapan itu tampak serius mendengarkan arahan panitia. Di hadapan mereka, puluhan berkas Memorandum of Understanding (MOU) tersusun rapi—dokumen yang hari ini akan menjadi pengikat komitmen antara pengurus pesantren dan keluarga mahasantri.

Bagi sebagian orang, sebuah MOU mungkin hanyalah lembaran kertas berisi butir-butir kesepakatan. Namun bagi mereka yang hadir pagi itu, dokumen tersebut merepresentasikan janji bersama: memastikan putra-putri mereka menjalani pendidikan dengan sungguh-sungguh hingga tuntas, disertai pengabdian satu tahun setelah lulus.
Kegiatan penandatanganan MOU ini menjadi bagian penting dari rangkaian penerimaan mahasiswa baru Ma’had Aly Al Fithrah. Acara dihadiri oleh jajaran pimpinan pesantren: Mudir Ma’had Aly Al Fithrah Ustadz Ahmad Syathori, M.Fil.I., Mudir Kurikulum Ustadz Fathul Haris, M.Th.I., Ketua LPPM Ustadz Abdulloh, M.Pd., Kepala Bagian Pendidikan Pondok Pesantren Al Fithrah Ustadz Nashiruddin, M.Pd., dan dewan masyayikh.

Dalam sambutannya, Ustaz Ahmad Syathori menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya keseriusan studi.
“Ma’had Aly Al Fithrah adalah lembaga yang mendapat dukungan beasiswa dari BAZNAS dan Pemprov. Karena itu, kami harus menjaga kualitas dan komitmen para mahasantri. MOU ini menjadi salah satu instrumen untuk memastikan itu,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan di Ma’had Aly bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan penguatan moral calon-calon kader ulama.
“Kami ingin mereka belajar dengan kesadaran penuh, bukan sekadar formalitas. Oleh sebab itu, kami perlu kesepakatan yang dipahami bersama,” tambahnya.
Menariknya, Ustaz Syathori mengibaratkan MOU ini seperti syariat: sebuah aturan yang wajib ditaati.
“Syariat adalah peraturan. Ketika kita sepakat, maka peraturan itu harus diikuti. Kalau dilanggar, tentu ada konsekuensi yang sudah disetujui sejak awal,” tegasnya.
Bagi pihak pesantren, MOU bukanlah bentuk ketidakpercayaan kepada mahasantri atau wali santri. Sebaliknya, ini adalah upaya menciptakan kesepahaman mengenai tanggung jawab masing-masing pihak. Dalam banyak kasus, ketidaksinkronan ekspektasi antara pesantren dan orang tua kerap memicu masalah di tengah perjalanan studi. Dengan adanya MOU, setiap pihak memiliki pegangan yang jelas.

Senada dengan mudir, Kepala Bagian Pendidikan Ponpes Al Fithrah, Ustaz Nashiruddin, menekankan pentingnya penyatuan persepsi.
“Ma’had Aly memiliki jargon ‘kader ulama’. Tidak semua lulusannya menjadi ulama; banyak yang kelak berkiprah sebagai ASN, pendidik, atau tokoh masyarakat. Namun apa pun jalurnya, kualitas mereka harus dijaga. Kesepakatan ini membantu memastikan itu,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan di Ma’had Aly bukan hanya tanggung jawab pesantren, tetapi juga keluarga.
“Kami ingin orang tua menjadi mitra strategis dalam mendampingi anak-anak mereka. Melalui MOU ini, kami berharap ada kesamaan pandangan tentang tujuan dan proses pendidikan,” tambahnya.
Salah satu sesi yang paling dinanti adalah dialog terbuka antara pengurus pesantren dan wali mahasantri. Panitia memberikan kesempatan bagi para orang tua untuk mengajukan pertanyaan, menyampaikan aspirasi, dan bahkan mengutarakan kekhawatiran mereka.
Beberapa pertanyaan mengemuka, mulai dari teknis pelaksanaan program pengabdian satu tahun, jadwal perkuliahan, hingga mekanisme evaluasi studi. Pihak pesantren merespons setiap pertanyaan dengan detail, menciptakan suasana komunikasi dua arah yang terbuka.
Ma’had Aly Al Fithrah dikenal sebagai lembaga pendidikan tinggi keagamaan yang mendapat dukungan beasiswa dari pondok dan pemerintah daerah melalui BAZNAS dan Pemprov. Dukungan ini memungkinkan banyak mahasiswa dari berbagai daerah untuk menempuh pendidikan tanpa terbebani biaya besar.
Namun, Ustaz Ahmad Syathori menegaskan bahwa dukungan tersebut harus diimbangi dengan kualitas dan keseriusan studi.
“Kami tidak ingin beasiswa ini disalahgunakan. Oleh karena itu, kesepakatan ini penting agar semua pihak memiliki tanggung jawab moral yang sama,” katanya.
Sebagai lembaga pendidikan yang mengusung jargon “kader ulama”, Ma’had Aly Al Fithrah terus berkomitmen mencetak lulusan berkualitas, baik yang kelak menjadi ulama, ASN, maupun pendidik. Melalui MOU ini, pengurus berharap tercipta kesamaan visi antara pesantren, mahasantri, dan keluarga.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin dewan masyayikh. Setelah itu, satu per satu wali mahasantri maju ke depan untuk menandatangani dokumen MOU bersama Mudir Ma’had Aly.